Tulisan ini bukanlah untuk mendikte pola fikir investasi dari pak Lo
Kheng Hong, namun hanya analisa serta catatan pribadi penulis saja, so just
enjoy it.
Penulis pribadi merupakan investor pemula, baru masuk pasar modal
sekitar pertengahan 2019, jadi mendengar emiten GJTL adalah nama yang asing
bagi penulis. Jujur penulis baru tahu GJTL pada saat cnbc Indonesia menulis
berita bahwa pak Lo Kheng Hong membeli emiten ini hingga 5%, berita ini tentu
membuat penulis tertarik untuk menganalisanya, yang berujung pada keputusan penulis
yaitu BUY, berikut analisanya untuk laporan keuangan 3Q 2020.
GJTL merupakan perusahaan yang efektif, wajar saja jika saat pandemi ini
mengakibatkan penjualan ban nya turun dari 12 T, menjadi hanya 9 T, namun
perusahaan GJTL menurunkan beban pokok penjualannya juga, sehingga
mengakibatkan laba kotor hanya turun tipis dari 1,9 T menjadi 1,7 T (hebat
masih bisa mencetak laba).
Jika membaca dengan seksama pada laporan keuangannya tampak bahwa
perusahaan menurunkan semua biaya beban perusahaan (beban penjualan, beban
administrasi, dan beban keuangan).
Namun yang harus kita highlight terletak pada penurunan paling
signifikan ada pada rugi kurs dari sebelumnya 116 M menjadi -304 M. Hal ini
mengakibatkan GJTL mengalami rugi bersih sebesar -105 M. Namun sebelum
mengambil kesimpulan bahwa GJTL ini mengalami kerugian, maka harus diketahui
bahwa kerugian kurs tersebut hanya pencatatan akutansi saja, perusahaan tidak
mengeluarkan uang sepeserpun disini.
Sehingga jika kerugian kurs dibuat 0, maka perhitungan penulis Laba
bersihnya akan menjadi 199 M yang sudah dikurangi semua beban,
termasuk beban pajaknya.
Jika jumlah saham beredarnya 3,48 M maka perhitungan EPS kasarnya akan
menjadi 199 M : 3,48 M = 57/lembar saham, nilai ini meningkat dari yang
sebelumnya hanya sebesar 40/lembar saham. Maka penulis rasa penting bagi
investor GJTL untuk menantikan penguatan rupiah terhadap dollar agar
perhitungan ini dapat terealisasi. Jika sudah terealisasi maka GJTL akan mulai
mencetak laba kembali, dan sahamnya akan segera dilirik oleh investor besar.
CFO yang meningkat menjadi 1,4 T dari yang sebelumnya hanya 740 M, hal
ini mengindikasikan bahwa kerugian kurs tadi memang hanya pencatatan akutansi
saja, karena buktinya perusahaan tetap mendapatkan Cash sebesar 1,4 T yang
masuk kedalam dompet perusahaan, terlihat juga kas meningkat tipis menjadi 699
M dari yang sebelumnya 656 M.
Kemudian tentang utangnya, penulis menganggap liabilitas usaha adalah
normal, it’s a business as usual, yang harus diperhatikan lebih teliti oleh
investor adalah utang bank dan utang obligasinya, karena semakin besar akan
semakin berbahaya. Setelah membaca laporan keuangannya penulis mendapatkan data
total keseluruhan utang GJTL adalah sekitar 6,2 T , jika dibandingkan dengan
aset lancar perusahaan saja yang sebesar 7,5 T maka perusahaan aman dan sehat
secara keuangan, atas dasar ini dapat menurunkan risiko berinvestasi pada GJTL.
Memangnya apasih risiko terbesar dari membeli saham? Apakah penurunan
harga saham? Tentu tidak ferguso, karena risiko terbesarnya adalah perusahaan
yang tidak mampu membayar utangnya, sehingga terpaksa harus dipailitkan. Penulis
pribadi tidak terlalu melihat penurunan harga saham sebagai sebuah risiko,
melainkan sebuah peluang, maka dari itu semakin murah valuasi sahamnya, semakin
kecil risiko yang anda terima.
Penulis masuk GJTL pada average 790 an, karena menunggu pasar taking profit dulu sehingga posisi masuk penulis lebih nyaman daripada membeli saat puncak berita pompom tentang Lo Kheng Hong. Saat itu tercermin PBV 0,44x dengan market cap hanya sekitar 2,7 T. Padahal perusahaan memiliki total aset sebesar 17,9 T, namun untuk nilai aset sebesar itu dijual oleh market hanya 2,7 T saja (Strong Undervalue), hal ini Kembali menunjukan bahwa betapa tidak rasionalnya pasar. Pasar yang tidak rasional inilah yang harus dimanfaatkan oleh individual investor seperti kita untuk masuk, karena para profesional investor seperti manajer reksadana tidak akan mungkin masuk pada harga yang serendah ini karena mereka memiliki beberapa aturan dalam membeli saham. Namun saat para manajer investasi mulai memasukkan GJTL kedalam portofolio mereka, maka kita mulai harus siap-siap keluar karna mereka pasti masuk pada harga yang lebih tinggi dari sekarang.
Hal terakhir yang menjadi keputusan BUY penulis pribadi adalah Gajah Tunggal merupakan perusahaan ban terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, dengan merk yang kuat seperti GT Radial, Giti, dan IRC Tire. Bahkan terlihat pada public exposenya bahwa porsi penjualan ekspor GJTL meningkat menjadi 40% yang sebelumnya hanya 37%, hal ini terjadi karena ekspor ban ke pasar amerika meningkat cukup pesat. Kemudian disampaikan oleh para direktur saat public ekspose bahwa perusahaan telah berhasil menurunkan jumlah piutang dengan pihak berelasi secara signifikan. Dengan tertagihnya piutang, membuat penulis semakin yakin jika laporan tahunan 2020 GJTL akan sangat baik.

No comments:
Post a Comment