Monday, 15 February 2021

Perjalanan 1-Bagger Pertama

Pada saat bulan september industri batubara sedang berada dipuncak penurunannya, dan mulai bermunculan berita buruk tentang batubara, seperti batubara akan segera ditinggalkan yang akan digantikan dengan green energy, atau pengaruh buruk batubara terhadap lingkungan dan berita buruk lainnya.

Penulis yang melihat berbagai berita buruk tentang batubara mulai mencari tahu harga batubara, yang akhirnya menemukan data bahwa harga batubara pada $55 sudah jatuh jauh dari harga tertingginya sekitar $100, sontak teringat pesan pak lo kheng hong : "Buy at bad time, sell at good time". Segera penulis melihat beberapa laporan keuangan perusahaan batubara yang berpotensi menjadi mutiara yang terpendam, singkat cerita penulis sudah membandingkan beberapa laporan keuangan dan melirik emiten indika energy yang super undervalue. Pada saat itu harga indika energy berada pada 900-an yang sudah naik 250% jika dibandingkan dengan harga terendah pada bulan maret sekitar 360-an.

Walaupun harganya sudah naik tinggi dari bulan maret, penulis tetap melihat indika energy sebagai peluang, pada waktu itu harga indika 910 yang mencerminkan PBV 0,35x , Kas 7,6T dan Market Capnya hanya 4,8T saja. Bayangkan, ada perusahaan batubara yang dijual ke publik seharga 4,8T memiliki berangkas uang sebanyak 7,6T, yang artinya penulis bisa mengakuisisi perusahaan ini 100% seharga 4,8T dan tiba-tiba penulis juga akan memperoleh Cashback sebesar 2,8T , bahkan perusahaan masih aktif beroperasi dan mencetak CFO sebesar 1,4T saat itu, ditambah lagi memiliki anak perusahaan Kideco Jaya Agung (KJA) yang memberikan Dividen sebesar 138 Miliar Rupiah, Unbelievable! Bahkan disaat terburuk saja indika masih mencetak uang cash.

Namun tentu saja hal yang tidak rasional ini hanya terjadi di pasar modal, tidak akan mungkin pemegang saham pengendali akan menjual perusahaan pada harga serendah itu. Karena itu penulis melihat ini sebagai kesempatan untuk masuk ke perusahaan yang sedang dijual pada harga yang tidak rasional, penulis mulai masuk pada average harga 925, yang rencananya akan penulis hold selama 1-2 tahun ke depan. Namun pasar berkata lain, INDY melesat ke harga 1900 an pada bulan Desember, sehingga dalam 3 bulan saja modal penulis di INDY sudah meningkat 100% (1-bagger). Kenaikan yang sangat cepat ini membuat penulis mengambil keputusan menjual 50% saham INDY dari portofolio penulis, dan 50% nya lagi penulis masih penulis hold hingga sekarang.

Penulis menjual 50% saham INDY dari portofolio penulis karena ingin mengamankan modal terlebih dahulu, dan kebetulan ada saham undervalue lainnya yang penulis lirik pada saat itu.
Mungkin akan penulis bahas pada postingan selanjutnya.

Disclaimer On !!
Bukan ajakan membeli suatu emiten, DYOR.
Jika ada kesalahan pada tulisan, silahkan komentari saja, penulis sangat berharap masukan dari anda.

No comments:

Post a Comment