Pada saat bulan september industri batubara sedang berada dipuncak penurunannya, dan mulai bermunculan berita buruk tentang batubara, seperti batubara akan segera ditinggalkan yang akan digantikan dengan green energy, atau pengaruh buruk batubara terhadap lingkungan dan berita buruk lainnya.
Penulis yang melihat berbagai berita buruk tentang
batubara mulai mencari tahu harga batubara, yang akhirnya menemukan data bahwa
harga batubara pada $55 sudah jatuh jauh dari harga tertingginya sekitar $100,
sontak teringat pesan pak lo kheng hong : "Buy at bad time, sell at good
time". Segera penulis melihat beberapa laporan keuangan perusahaan
batubara yang berpotensi menjadi mutiara yang terpendam, singkat cerita penulis
sudah membandingkan beberapa laporan keuangan dan melirik emiten indika energy
yang super undervalue. Pada saat itu harga indika energy berada pada 900-an
yang sudah naik 250% jika dibandingkan dengan harga terendah pada bulan maret
sekitar 360-an.
Walaupun harganya sudah naik tinggi dari bulan
maret, penulis tetap melihat indika energy sebagai peluang, pada waktu itu
harga indika 910 yang mencerminkan PBV 0,35x , Kas 7,6T dan Market Capnya hanya
4,8T saja. Bayangkan, ada perusahaan batubara yang dijual ke publik seharga
4,8T memiliki berangkas uang sebanyak 7,6T, yang artinya penulis bisa
mengakuisisi perusahaan ini 100% seharga 4,8T dan tiba-tiba penulis juga akan
memperoleh Cashback sebesar 2,8T , bahkan perusahaan masih aktif beroperasi dan
mencetak CFO sebesar 1,4T saat itu, ditambah lagi memiliki anak perusahaan Kideco
Jaya Agung (KJA) yang memberikan Dividen sebesar 138 Miliar Rupiah, Unbelievable! Bahkan disaat terburuk saja indika masih mencetak uang cash.
Namun tentu saja hal yang tidak rasional ini hanya
terjadi di pasar modal, tidak akan mungkin pemegang saham pengendali akan
menjual perusahaan pada harga serendah itu. Karena itu penulis melihat ini
sebagai kesempatan untuk masuk ke perusahaan yang sedang dijual pada harga yang
tidak rasional, penulis mulai masuk pada average harga 925, yang rencananya
akan penulis hold selama 1-2 tahun ke depan. Namun pasar berkata lain, INDY
melesat ke harga 1900 an pada bulan Desember, sehingga dalam 3 bulan saja modal
penulis di INDY sudah meningkat 100% (1-bagger). Kenaikan yang sangat cepat ini
membuat penulis mengambil keputusan menjual 50% saham INDY dari portofolio penulis,
dan 50% nya lagi penulis masih penulis hold hingga sekarang.
Penulis menjual 50% saham INDY dari portofolio penulis
karena ingin mengamankan modal terlebih dahulu, dan kebetulan ada saham
undervalue lainnya yang penulis lirik pada saat itu.
Mungkin akan penulis bahas pada postingan
selanjutnya.
Disclaimer On !!
Bukan ajakan membeli suatu emiten, DYOR.
Jika ada kesalahan pada tulisan, silahkan
komentari saja, penulis sangat berharap masukan dari anda.

No comments:
Post a Comment