Thursday, 30 April 2020

Kesulitan Finansial Saat Krisis, Salah Siapa? Pemerintah atau Diri Sendiri?



Haloo sahabat ala mega, selamat malam, apa kabar? sehat luar biasa semua kan? ^^

Akhir-akhir ini, ada sebuah topik yang cukup membuat penulis memutar otak, mengapa hal ini bisa terjadi. Yaitu terkait krisis yang sedang kita semua alami saat ini, apalagi kalau bukan karena Covid 19. Wabah Covid 19 ini, membuat banyak sekali para pemilik perusahaan yang merugi, karena tingkat belanja masyarakat yang menurun  drastis, hal ini kemudian mengakibatkan perusahaan terpaksa melakukan PHK besar-besaran terhadap karyawan maupun buruhnya untuk menjaga agar perusahaan tetap menghasilkan laba.
Berita PHK massal pabrik sepatu di Tangerang (sumber: CNBC Indonesia)

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, setelah terjadi PHK besar-besaran, tidak lama kemudian keluar kebijakan dari pemerintah yang mengharuskan masyarakat wajib WFH (Work From Home). Tentu saja ada positif dan negatif terkait kebijakan ini, yang penulis rasa kebijakan ini akan menjadi positif bagi para freelancer, online shop, dropshipper, reseller, dan lainnya, karena bekerja dari rumah mengharuskan kita untuk tidak keluar rumah sebisa mungkin, sehingga mau tidak mau, berbelanja barang juga hanya lewat online. Sebaliknya kebijakan ini menjadi kabar buruk bagi para pengusaha atau profesi yang tidak mungkin melakukan WFH, seperti driver ojol, pedagang keliling, buruh pabrik, dan banyak lagi. 

Berita tentang WFH bagi para pekerja (sumber: CNBC Indonesia)

Karena hal inilah, yang mengakibatkan banyak sekali masyarakat Indonesia secara mendadak mengalami kesulitan finansial. Para buruh mulai protes dan berdemo karena di PHK massal, apalagi beberapa perusahaan tidak dapat memberikan THR, karena bagi perusahaan, untuk membayangkan mendapat laba saja sudah sulit, apalagi untuk memberikan THR. Kemudian mulai muncul ke permukaan, suara-suara yang menyalahkan pemerintah karena mereka mulai mengalami kesulitan finansial. Well hal ini menjadi tanda tanya besar bagi penulis, apa benar masalah finansial mereka merupakan salah pemerintah atau malah salah diri sendiri

Penulis juga tidak akan menjawab secara frontal, siapa yang harus disalahkan dalam hal ini, akan tetapi penulis akan mengajak pembaca untuk menyimak 2 cerita berikut, agar pembaca dapat menilai sendiri, sebenarnya salah siapa sih?

Cerita pertama, cerita ini sebenarnya sudah viral beberapa saat yang lalu, Ia juga sempat diundang pada salah satu acara diskusi di TV, ceritanya seperti ini, seorang driver ojol bernama Pak Ginanjar, hidup berkeluarga dengan istri dan tiga orang anak. Ia sudah berprofesi sebagai ojol sejak 5 tahun yang lalu, dengan penghasilan 100-200 ribu/hari (sebelum pandemi covid 19). Namun belakangan penghasilannya menurun karena wabah covid 19 ini. Ceritanya menjadi viral karena ia sempat membuat video curhat ke media sosial, tentang betapa sulitnya bertahan hidup, karena tidak memiliki cukup uang selama masa pandemi covid 19, yang kemudian videonya dishare oleh banyak orang.

Kemudian cerita kedua, penulis dapat dari akun Instagram @galerisaham, seorang Ibu yang berprofesi sebagai tukang urut selama 3 tahun di daerah Jakarta Timur, dan sempat ikut Go Massage dari Gojek, Ia adalah single parent dari satu orang anak, Bu Atik namanya. Ia sudah 100% tidak ada orderan lagi semenjak pandemi Covid 19 ini (sejak maret 2020), karena kebijakan pemerintah yang menerapkan WFH. Yang mengejutkan adalah, selama masa pandemi ini Ibu Atik masih dapat bertahan hidup selama 8 bulan kedepan, dan sudah termasuk bayar kontrakan, token listrik dan uang sekolah anak. Hal ini bisa terjadi karena Ibu Atik selalu memisahkan uang jasa dan uang tip yang diterima. Uang tabungan tidak pernah Ia sentuh, karena menurutnya uang tabungan seharusnya dilupakan, supaya tidak dipakai setiap saat.

Dari kedua cerita tadi, kita bisa melihat ada dua orang yang memiliki profesi dengan pendapatan yang sama-sama relatif kecil, tetapi mengapa Ibu Atik bisa bertahan hidup selama masa pandemi, sedangkan Pak Ginanjar malah sangat berkekurangan? Padahal jika dilihat dari lama waktu bekerja, Pak Ginanjar sudah bekerja selama 5 tahun, sedangkan Ibu Atik baru 3 tahun.

Penulis yakin akan ada yang menjawab :
“Terang saja Pak Ginanjar lebih kesulitan, karena harus menghidupi istri dan 3 orang anak, sedangkan Ibu Atik hanya 1 orang anak saja.”

Penulis rasa jawaban ini masih kurang tepat, sebab andai kata Pak Ginanjar setiap hari dapat menyisihkan penghasilannya sejak 5 tahun yang lalu untuk ditabung, sekecil apapun itu, penulis yakin Pak Ginanjar dapat bertahan hidup, barang hanya 3-6 bulan saja tanpa perlu bekerja selama masa pandemi ini.

Dari dua cerita ini, yang ingin penulis sampaikan adalah, masyarakat Indonesia masih banyak yang tidak memiliki kecerdasan finansial seperti Ibu Atik. Memang sih, beban hidup setiap orang berbeda-beda, tapi andai kata orang tersebut memiliki kecerdasan finansial, penulis yakin semuanya bakal hidup berkecukupan, dan siap untuk menghadapi krisis. Inilah alasan mengapa pendidikan finansial itu penting, terutama dalam hal mengatur keuangan.

Hal yang dapat kita pelajari dari sosok Ibu Atik adalah selalu sisihkan terlebih dahulu pendapatan untuk dana darurat, baru sisanya boleh di belanjakan. Bukan sebaliknya menyisakan dari pendapatan untuk dana darurat, karena kita cenderung akan membelanjakan habis uang pendapatan tersebut, yang pada akhirnya tidak ada sisa lagi untuk ditabung. 

Well harapan penulis, semoga setelah ini pandangan pembaca tentang uang dapat berubah menjadi lebih baik lagi yaa, Ingat! Dapat uang, sisihkan terlebih dahulu, baru dibelanjakan!


Sebelum menutup, tidak lupa juga kita doakan Pak Ginanjar agar selalu murah rezekinya, karena Ia sangat berjasa sudah menyuarakan isi hati warga Indonesia yang kurang mampu, melalui video curhatannya. Untuk pembaca yang berkecukupan, semoga tergerak hatinya untuk saling membantu sesama, karena harta didunia ini hanyalah titipan, hanya amal baik kita yang akan dibawa ke akhirat nanti. 

Mungkin sekian dari penulis untuk malam ini, selamat malam dan selamat beristirahat sahabat ala mega ^^.

2 comments:

  1. Keren banget kak, bisa relate soalnya baru aja kemarin mikirin MR organisasi yang tidak sehat karena sebelumnya tidak memanage finansial dengan baik. Makasi mas perspektifnya. Eh ini mas atau kak sih, bete

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks kak komentar positifnya, semoga bisa bermanfaat untuk organisasinya ya mbak :). Eh ini juga bingung mbak apa kak sih? Hehe

      Delete