Haloo sahabat ala mega, selamat
malam, apa kabar? sehat luar biasa semua kan? ^^
Akhir-akhir ini, ada sebuah topik
yang cukup membuat penulis memutar otak, mengapa hal ini bisa terjadi. Yaitu
terkait krisis yang sedang kita semua alami saat ini, apalagi kalau bukan
karena Covid 19. Wabah Covid 19 ini, membuat banyak sekali para pemilik
perusahaan yang merugi, karena tingkat belanja masyarakat yang menurun drastis, hal ini kemudian mengakibatkan
perusahaan terpaksa melakukan PHK besar-besaran terhadap karyawan maupun
buruhnya untuk menjaga agar perusahaan tetap menghasilkan laba.
![]() |
| Berita PHK massal pabrik sepatu di Tangerang (sumber: CNBC Indonesia) |
Ibarat sudah jatuh tertimpa
tangga, setelah terjadi PHK besar-besaran, tidak lama kemudian keluar kebijakan
dari pemerintah yang mengharuskan masyarakat wajib WFH (Work From Home). Tentu saja
ada positif dan negatif terkait kebijakan ini, yang penulis rasa kebijakan ini
akan menjadi positif bagi para freelancer, online shop, dropshipper, reseller, dan
lainnya, karena bekerja dari rumah mengharuskan kita untuk tidak keluar rumah
sebisa mungkin, sehingga mau tidak mau, berbelanja barang juga hanya lewat
online. Sebaliknya kebijakan ini menjadi kabar buruk bagi para pengusaha atau
profesi yang tidak mungkin melakukan WFH, seperti driver ojol,
pedagang keliling, buruh pabrik, dan banyak lagi.
![]() |
| Berita tentang WFH bagi para pekerja (sumber: CNBC Indonesia) |
Karena hal inilah, yang mengakibatkan
banyak sekali masyarakat Indonesia secara mendadak mengalami kesulitan
finansial. Para buruh mulai protes dan berdemo karena di PHK massal, apalagi
beberapa perusahaan tidak dapat memberikan THR, karena bagi perusahaan, untuk membayangkan
mendapat laba saja sudah sulit, apalagi untuk memberikan THR. Kemudian mulai muncul ke
permukaan, suara-suara yang menyalahkan pemerintah karena mereka mulai
mengalami kesulitan finansial. Well hal ini menjadi tanda tanya besar bagi
penulis, apa benar masalah finansial mereka merupakan salah pemerintah atau malah salah diri sendiri?
Penulis juga tidak akan menjawab secara frontal, siapa yang harus disalahkan
dalam hal ini, akan tetapi penulis akan mengajak pembaca untuk menyimak 2 cerita berikut, agar pembaca dapat
menilai sendiri, sebenarnya salah siapa sih?
Cerita pertama, cerita ini
sebenarnya sudah viral beberapa saat yang lalu, Ia juga sempat diundang pada salah
satu acara diskusi di TV, ceritanya seperti ini, seorang driver ojol
bernama Pak Ginanjar, hidup berkeluarga dengan istri dan tiga orang anak. Ia
sudah berprofesi sebagai ojol sejak 5 tahun yang lalu, dengan penghasilan 100-200
ribu/hari (sebelum pandemi covid 19). Namun belakangan penghasilannya menurun
karena wabah covid 19 ini. Ceritanya menjadi viral karena ia sempat membuat
video curhat ke media sosial, tentang betapa sulitnya bertahan hidup, karena
tidak memiliki cukup uang selama masa pandemi covid 19, yang kemudian videonya
dishare oleh banyak orang.
Kemudian cerita kedua, penulis
dapat dari akun Instagram @galerisaham, seorang Ibu yang berprofesi sebagai
tukang urut selama 3 tahun di daerah Jakarta Timur, dan sempat ikut Go Massage
dari Gojek, Ia adalah single parent dari satu orang anak, Bu Atik namanya. Ia
sudah 100% tidak ada orderan lagi semenjak pandemi Covid 19 ini (sejak maret
2020), karena kebijakan pemerintah yang menerapkan WFH. Yang mengejutkan adalah,
selama masa pandemi ini Ibu Atik masih dapat bertahan hidup selama 8 bulan
kedepan, dan sudah termasuk bayar kontrakan, token listrik dan uang sekolah
anak. Hal ini bisa terjadi karena Ibu Atik selalu memisahkan uang jasa dan uang
tip yang diterima. Uang tabungan tidak pernah Ia sentuh, karena menurutnya uang
tabungan seharusnya dilupakan, supaya tidak dipakai setiap saat.
Dari kedua cerita tadi, kita bisa
melihat ada dua orang yang memiliki profesi dengan pendapatan yang sama-sama relatif
kecil, tetapi mengapa Ibu Atik bisa bertahan hidup selama masa pandemi,
sedangkan Pak Ginanjar malah sangat berkekurangan? Padahal jika dilihat dari
lama waktu bekerja, Pak Ginanjar sudah bekerja selama 5 tahun, sedangkan Ibu
Atik baru 3 tahun.
Penulis yakin akan ada yang
menjawab :
“Terang saja Pak Ginanjar lebih
kesulitan, karena harus menghidupi istri dan 3 orang anak, sedangkan Ibu Atik
hanya 1 orang anak saja.”
Penulis rasa jawaban ini masih kurang
tepat, sebab andai kata Pak Ginanjar setiap hari dapat menyisihkan penghasilannya sejak 5
tahun yang lalu untuk ditabung, sekecil apapun itu, penulis yakin Pak Ginanjar
dapat bertahan hidup, barang hanya 3-6 bulan saja tanpa perlu bekerja selama
masa pandemi ini.
Dari dua cerita ini, yang ingin
penulis sampaikan adalah, masyarakat Indonesia masih banyak yang tidak memiliki
kecerdasan finansial seperti Ibu Atik. Memang sih, beban hidup setiap orang
berbeda-beda, tapi andai kata orang tersebut memiliki kecerdasan finansial,
penulis yakin semuanya bakal hidup berkecukupan, dan siap untuk menghadapi
krisis. Inilah alasan mengapa pendidikan finansial itu penting, terutama dalam hal mengatur keuangan.
Hal yang dapat kita pelajari dari
sosok Ibu Atik adalah selalu sisihkan terlebih dahulu pendapatan untuk dana
darurat, baru sisanya boleh di belanjakan. Bukan sebaliknya menyisakan dari pendapatan
untuk dana darurat, karena kita cenderung akan membelanjakan habis uang
pendapatan tersebut, yang pada akhirnya tidak ada sisa lagi untuk ditabung.
Well harapan penulis,
semoga setelah ini pandangan pembaca tentang uang dapat berubah menjadi lebih
baik lagi yaa, Ingat! Dapat uang, sisihkan terlebih dahulu, baru dibelanjakan!
Sebelum menutup, tidak lupa juga kita doakan Pak
Ginanjar agar selalu murah rezekinya, karena Ia sangat berjasa sudah menyuarakan
isi hati warga Indonesia yang kurang mampu, melalui video curhatannya. Untuk pembaca yang berkecukupan,
semoga tergerak hatinya untuk saling membantu sesama, karena harta didunia ini
hanyalah titipan, hanya amal baik kita yang akan dibawa ke akhirat nanti.
Mungkin sekian dari penulis untuk
malam ini, selamat malam dan selamat beristirahat sahabat ala mega ^^.



Keren banget kak, bisa relate soalnya baru aja kemarin mikirin MR organisasi yang tidak sehat karena sebelumnya tidak memanage finansial dengan baik. Makasi mas perspektifnya. Eh ini mas atau kak sih, bete
ReplyDeleteThanks kak komentar positifnya, semoga bisa bermanfaat untuk organisasinya ya mbak :). Eh ini juga bingung mbak apa kak sih? Hehe
Delete