Hai hai halooo Sahabat Ala Mega ^^
Bagaimana kabar kalian minggu ini? Luar biasa sehat kan? Sedikit curhat, penulis akhir-akhir ini lagi addicted banget buat berolahraga, untuk para sahabat jangan lupa berolah raga juga yaa selama masa pandemi ini supaya tubuh tetap terjaga kesehatannya.
Tulisan kali ini menyambung terkait tulisan sebelumnya, “Membuat Catatan Pengeluaran Harian, Perlu Gak Sih?”, yang membahas tentang bagaimana tips ala mega untuk mengatur pengeluaran harian kamu, jika sahabat belum membacanya, dapat membacanya terlebih dahulu disini. Jika sudah membacanya silahkan lanjutkan membaca tulisan ini.
Selamat penulis ucapkan, karena jika kamu membaca tulisan ini seharusnya kamu sudah mencatat pengeluaran harian kamu secara rutin, dan kamu sudah menabung untuk dana darurat kamu. Sekarang kamu siap untuk tahap selanjutnya, yaitu alokasi dana kamu untuk investasi. Bagaimanakah caranya?
Disclaimer On!
Penulis disini ingin memberikan disclaimer terlebih dahulu bahwa tulisan ini bukan ajakan untuk memilih instrumen investasi tertentu, melainkan hanya untuk berbagi opini dan saran saja, maka dari itu keputusan investasi beserta resikonya harus kamu tanggung sendiri. Toh, pada akhirnya jika untung, untuk pribadi kamu juga ^^
Definisi investasi secara simpel menurut penulis adalah, kegiatan menyimpan uang dalam jangka panjang pada suatu instrumen investasi, yang dapat menghasilkan bunga berlipat-lipat dikemudian hari. Penulis suka menggambarkan kegiatan investasi seperti kita menanam pohon, mulai dari mencari bibit unggul, menyiram pohon tersebut secara rutin, melihatnya tumbuh semakin tinggi dari tahun ke tahun, dan pada suatu hari akan menghasilkan buah yang banyak dan manis. Kegiatan memanen buah investasi inilah yang ingin penulis bagikan kepada sahabat semua.
“Instrumen investasi kan ada banyak, bagaimana saya memilih instrumen yang cocok untuk investasi saya?” well, penulis rasa mungkin lebih baik kita mengenal terlebih dahulu instrumennya, baru kita akan mulai berinvestasi di instrumen tersebut. Penulis membagi berdasarkan profil risiko yang dapat di tanggung seseorang terhadap dana investasinya.
Pertama untuk orang yang Konservatif, ini cocok untuk kamu yang masih pemula di dunia investasi, tidak
mampu menahan risiko, dan paling gak bisa melihat dana investasinya dalam
keadaan minus. Orang-orang yang tergolong kedalam kategori konservatif ini,
sebaiknya memilih instrumen investasi yang menawarkan fix return, atau imbal hasilnya pasti. Namun
walaupun imbal hasilnya pasti, akan tetapi kekurangannya adalah bunga yang
dihasilkan sangatlah kecil, berkisar antara 3-6% pertahunnya. Instrumen dalam kategori konservatif ini adalah Emas,
Deposito, Obligasi Pemerintah, Reksadana Pasar Uang dan Reksadana Pendapatan
Tetap.
Walaupun emas harganya akan fluktuatif naik dan turun, akan tetapi nilai dari emas tersebut akan tetap terjaga sehingga harganya akan cenderung terus naik, antara harga emas dan nilai emas yang penulis maksud disini merupakan dua hal yang berbeda. Sebagai contoh, harga emas pada tahun 2010 sekitar Rp. 300.000/gram sedangkan pada tahun 2020 sekitar Rp. 800.000/gram, sedangkan nilai emas itu tetap, misalkan 1 kilogram emas pada tahun 2010 dapat membeli sebuah mobil mercy, maka pada tahun 2020 mobil mercy tersebut tetap dapat dibeli dengan 1 kilogram emas. Emas hanyalah alat lindung nilai uang kamu terhadap laju inflasi, sehingga return dari emas juga dapat dikatakan stabil. Investasi ini sangat cocok untuk tujuan yang pasti dan jangka pendek 1-2 tahun ke bawah, seperti untuk keperluan uang sekolah anak, biaya persalinan, dana darurat, biaya pernikahan, dan keperluan lainnya.
Kedua adalah untuk orang yang Moderat, biasanya orang yang tergolong tipe moderat ini sudah merasakan hasil
dari instrumen konservatif, namun kurang puas dengan hasil yang diterima, atau sudah
bisa mengelola dan menerima risiko. Imbal hasil yang diterima juga lebih besar,
instrumen yang cocok untuk orang yang berada
pada kategori moderat ini adalah P2P Lending
dan Reksadana Campuran, berdasarkan data yang diambil dari Infovesta Utama
menunjukkan, dari perhitungan 10 reksadana campuran terbaik periode 5 tahun di
2018, imbal hasil yang diraih berkisar antara 42%-76%, sedangkan P2P lending
berkisar antara 10-20% pertahunnya.
Imbal hasil yang ditawarkan kedua instrumen ini memang cukup besar, namun bukan tanpa risiko, seperti P2P lending yang memiliki risiko gagal bayar atau telat bayar dari UMKM tempat kita menginvestasikan uang kita. Maka dari itu akan lebih baik pelajari dan kenali terlebih dahulu instrumen investasi yang akan kita gunakan. Investasi jenis ini biasanya digunakan untuk keperluan jangka menengah dalam 3-5 tahun kedepan, contohnya untuk membeli mobil, travelling, membeli rumah, membeli tanah, dana pensiun, atau hanya untuk mendapatkan capital gain.
Ketiga adalah untuk orang yang Agresif, tipe ini sangat cocok untuk orang yang sudah ahli mengelola resiko,
memiliki mental investor jangka panjang, tidak panik saat melihat dana
investasinya minus dan tentunya punya mindset dan skill sebagai investor
sejati. Penulis sendiri lebih suka berada pada posisi agresif ini karena dapat
memberikan return yang paling tinggi dari instrumen lainnya. Instrumen untuk orang
yang agresif adalah Saham, imbal hasil yang dihasilkan bisa sangat besar, berkisar 15-30% jika
diinvestasikan ke perusahaan bluechip, atau perusahaan besar, dan 50-100% bahkan lebih, jika di investasikan pada
perusahaan kecil. Salah satu investor kawakan Indonesia Pak Lo Kheng Hong, pernah
mencetak return sampai 12.500% di saham MBAI! Iya, kamu gak salah baca kok,
returnya 12.500% loh sahabat!
Walaupun memiliki imbal hasil tertinggi akan tetapi saham juga memiliki risiko yang sama tingginya, bahkan dana yang kamu investasikan dapat lenyap tak bersisa jika perusahaan yang kamu investasikan dananya mengalami kebangkrutan! Saham merupakan instrumen investasi yang bersifat High Risk, High Return. Dalam jangka pendek memang saham memiliki risiko yang besar karena harganya yang sangat berfluktuatif, akan tetapi dalam jangka panjang 3-10 tahun bahkan jika dipegang selamanya, maka saham akan memberikan return tertinggi daripada instrumen lainnya. Saham cocok untuk keperluan jangka panjang seperti untuk dana pensiun dan untuk anda yang memiliki tujuan hidup dengan passive income.
Sampai disini penulis rasa kamu sudah paham dengan instrument investasi dan sudah dapat mengenali profil risiko masing-masing. Selanjutnya adalah dana alokasi untuk investasi yang ideal itu bagaimana?
Pertama yang penulis sarankan, kamu harus alokasikan adalah untuk dana darurat untuk 12 bulan biaya hidup, contohnya biaya bulanan kamu adalah Rp. 2.000.000 maka uang yang harus kamu sisihkan untuk dana darurat adalah Rp. 24.000.000, uang ini dapat kamu simpan di Reksadana Pasar Uang, Reksadana Pendapatan Tetap, Deposito, Obligasi atau Emas, ingat dana darurat ini tidak boleh disentuh sama sekali yaa.
“Mengapa tidak menabung di bank saja?” Sebenarnya menabung dibank untuk jangka panjang bukanlah hal yang baik, karena bunga simpanan bank yang sangat kecil dengan rata-rata bunga 0,5% sedangkan inflasi di Indonesia berkisar 3% sehingga jika kurangi, 0,5 – 3 = -2,5%!! Yang berarti uang kamu nilainya akan terus menyusut 2,5% setiap tahunnya. C’mon mann… orang bodoh mana yang mau uangnya setiap tahun menurun nilainya? Belum lagi tabungan akan terkena biaya admin dan lainnya. Duh, kalau begini ceritanya tidurpun kita akan semakin miskin deh.
Oke, tahap selanjutnya jika dana darurat sudah terpenuhi kamu dapat menginvestasikan dana pendapatanmu tergantung pada tujuanmu, jangka pendek, menengah atau panjang?
Porsi investasi yang penulis sarankan juga tergantung usia kamu, semakin muda usia maka seharusnya semakin agresif juga tipe investasinya, dan untuk usia dewasa penulis menyarankan untuk konservatif sampai moderat saja. Akan tetapi, juga tidak membatasi jika usia dewasa memiliki profil risiko yang agresif, juga bisa memilih saham sebagai tempat investasinya.
Untuk usia muda, penulis menyarankan agar menyisihkan uang dari pendapatan sebesar 25% (contoh, pendapatanmu adalah Rp. 2.000.000, maka 25%nya adalah Rp.500.000) untuk investasi pada tempat yang agresif seperti saham, karena saham memberikan return yang cukup tinggi, dan usia kamu masih muda, merupakan kesempatan untuk mengambil risiko yang tinggi. Karena menurut penulis adalah jika rugi tenang saja, masih cukup muda untuk belajar dan coba lagi, namun jika untung, masih cukup muda untuk menikmati hasilnya. Karena inti dari investasi adalah berteman dengan waktu, semakin banyak waktu yang kamu miliki, maka semakin besar hasil yang akan kamu dapatkan. Kamu dapat berinvestasi untuk jangka waktu yang sangat lama, berkisar 5-10 tahun untuk mendapatkan return yang optimal.
Tidak lupa untuk selalu menambah
porsi investasinya jika kamu mengalami kenaikan gaji, contoh biaya hidupmu dari
dulu adalah Rp. 2.000.000 dan pendapatanmu Rp. 10.000.000 maka 50%nya dapat
kamu investasikan ke saham dan 30% ditabung ke dalam Reksadana untuk dana
darurat. Semakin besar dana yang kamu investasikan maka akan semakin cepat pula
kamu akan mencapai tujuan investasimu.
Ingat! Jangan tergoda, karena biasanya yang dilakukan oleh orang yang “bermindset miskin” saat menerima kenaikan gaji adalah, ia menaikkan gaya hidupnya, bukan menaikkan nilai asetnya, inilah sebab mengapa berapapun gajinya ia akan tetap miskin.
Kemudian untuk usia dewasa dan tua, penulis sangat menyarankan menyisihkan 10-20% pendapatannya di instrument yang lebih stabil seperti Reksadana dan Obligasi Pemerintah, dikarenakan pertimbangan penulis usia dewasa banyak banget beban yang ditanggung, mulai dari biaya rumah, biaya makan keluarga, biaya sekolah anak dan masih banyak lagi, maka dari itu tidak disarankan untuk investasi di saham. Karena bayangkan saja jika kamu memiliki saham yang harganya sedang anjlok, namun disaat bersamaan kamu juga butuh uang untuk biaya sekolah anak, terpaksa kamu harus menjual rugi saham yang kamu investasikan tersebut, sehingga investasimu tidak akan menghasilkan apa-apa.
Namun akan berbeda ceritanya jika pendapatan kamu sudah dapat menutupi semua keperluan tersebut bahkan untuk keperluan mendesak sekalipun, maka dapat mengalokasikan dana di saham juga dengan syarat di diversifikasikan juga ke instrument yang konservatif, contoh alokasinya adalah 65% saham dan 45% Reksadana Pasar Uang.
Itu dia tips dari penulis untuk kamu dapat mengalokasikan dana investasimu, segera take action, sebab ilmu tanpa tindakan sama saja dengan nol. Segera berinvestasilah, karena ada keajaiban dunia kedelapan, yaitu keajaiban bunga-berbunga, keajaiban dunia 1-7 jujur penulis tidak hafal, tetapi yang kedelapan merupakan rahasia orang-orang terkaya didunia ini. Keajaiban bunga-berbunga hanya dapat ditemukan didalam kegiatan investasi, yaitu bunga yang diinvestasikan tidak diambil hasilnya, namun diinvestasikan kembali sehingga memberikan efek seperti gulungan bola salju yang semakin lama akan semakin besar.
Yahh, cukup sampai disini saja,
semoga bermanfaat dan jangan lupa take
action! See u Sahabat Ala Mega ^^









Dana darurat kalau tidak likuid boleh ya? Apalagi kalau misal taruh di emas, ada selisih biaya jual dan buyback, biaya simpan, dll?
ReplyDeleteDana darurat sebaiknya ditaruh pada tempat yang likuid (dapat dicairkan dalam waktu singkat), kalau emas termasuk likuid karna dapat diperjual belikan kapanpun, terlepas dari biaya jual dan beli emasnya. Tidak disarankan menaruh dana darurat pada investasi yang tidak likuid seperti Property (tanah, ruko, gedung, sarang walet, dll)
Delete